PIERRE TENDEAN,,PERWIRA TAMPAN BERDARAH KAWANUA -->

Iklan Semua Halaman

Adbox

Subscribe Us

PIERRE TENDEAN,,PERWIRA TAMPAN BERDARAH KAWANUA

Admin
Saturday, February 1, 2014
Kapten Czi. (Anumerta) Pierre Andries Tendean

Kapten Czi. (Anumerta) Pierre Andries Tendean, merupakan salah satu pahlawan Revolusi yang gugur pada  saat mengemban tugas saat terjadi peristiwa G30S pada tanggal 30 September 1965.

Pria tampan yang lahir pada  21 Februari 1939 di Batavia (Jakarta)  ini merupakan bungsu dari pasangan  Dr. A.L Tendean, seorang dokter yang berdarah Minahasa, dan Cornet M.E, seorang wanita Indo yang berdarah Perancis

Piere merupakan sosok yang cerdas, mudah bergaul dan  merupakan anak kebanggan dari keluarganya sehingga tak heran pada masanya,dia disegani dan banyak yang mengidolakan dirinya.


Masa kecilnya dia lalui di Jawa Tengah bersama keluarga, Ketika itu Belanda sedang menjalankan Agresi Militer II.
Pria bungsu dari tiga bersaudara ini  menempuh pendidikan Sekolah Dasar di Magelang dan sekolah menengah di Semarang.

Ketika sekolah di Semarang, nilai ujiannya sangat menonjol. Keinginannya menjadi prajurit sudah mengental saat itu, walau ayahnya mengharapkan Pierre meneruskan pendidikan ke Fakultas Kedokteran. Pierre akhirnya mengikuti tes dua-duanya, tapi lebih tertarik masuk ke Akademi Militer jurusan teknik.

Bulan November 1958 Pierre diterima dan masuk pendidikan Akademi Teknik Angkatan Darat (Aktekad) di Bandung. Tahun 1962 lulus dengan sangat memuaskan dan dilantik sebagai Letnan Dua.

Pierre mempunyai pengalaman dalam berbagai tugas.  sewaktu masih Kopral Taruna tahun 1958, dia sudah ikut dalam Operasi menumpas Pemberontakan PRRI di Sumatra. Pierre ditempatkan dalam kesatuan Zeni Tempur yang mengikuti Operasi Sapta Marga. Jabatan Letnan Dua Pierre yang pertama adalah sebagai Komandan Peleton pada Batalyon Zeni Tempur 2/DAM II di Medan.

Dalam pelaksanaan tugas ini Pierre melaksanakan dengan profesional. Sewaktu konfrontasi dengan Malaysia, Letda Pierre memasuki pendidikan intelejen. Selesai pendidikan, dia di tugaskan ke Malaysia, diperbantukan pada Dinas Pusat Intelejen Angakatan Darat (DIPLAD) yang bertugas di garis depan.

Selama setahun bertugas di garis depan, Pierre bisa menelusup ke Malaysia tiga kali. Menyamar sebagai turis yang berbelanja. Yang kedua bahkan bisa mengambil teropong milik tentara Inggris yang disimpan sebagai kenangan. Yang ketiga kalinya adalah saat yang kritis. Di tengah laut dia dikejar oleh sebuah destroyer, kapal perusak Inggris. Pierre melarikan speedboatnya, membelokkan, dan kemudian menyelam. Dia bergantung di belakang perahu dengan seluruh badan tenggalam dalam air. Ketika destroyer itu mendekat hanya melihat seorang yang tak mencurigakan, lalu segera pergi meninggalkan. Pierre berhasil lolos dari lubang jarum berkat kecerdikannya.


Pada tanggal 15 April 1965 Tendean di promosikan menjadi Letnan Satu dan di tugaskan menjadi ajudan Jenderal TNI  A.H. Nasution.

Tapi Tuhan memutuskan lain, karena ia gugur saat mengemban tugas saat terjadi peristiwa G30S pada tanggal 30 September 1965. Sebagai bentuk kehormatan, ia pun dinaikkan pangkatnya menjadi Kapten sekaligus ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi Indonesia, pada 5 Oktober 1965.

(Tulisan diambil dari berbagai sumber)