Gereja Yang Mengasuh - makatana.com

Subscribe Us

test banner

Breaking

Home Top Ad

test banner

Post Top Ad

test banner

Minggu, 14 Februari 2021

Gereja Yang Mengasuh




Manado (faktaviral.com) - Tanggal 17 Februari 2021, kita mengawali masa Prapaskah dengan perayaan Hari Rabu Abu. Salah satu kegiatan penting sepanjang masa Prapaskah adalah pendalaman tema Aksi Puasa Pembangunan (APP). Tema APP tahun ini adalah Membangun Ekonomi yang berbelarasa (semakin beriman, semakin bertobat, semakin solider). Tema ini kita dalami lewat katekese dan ibadat dan kita tindaklanjuti dengan perubahan perilaku ekonomi kita.

Hal ini tertulis dalam Surat Puasa Uskup Keuskupan Manado, Mgr Benedictus E Rolly Untu, MSC, tertanggal 11 Februari 2021, Pada Hari Orang Sakit Sedunia ke-29 dibacakan Pastor Paroki St Mikael Perkamil, Manado, Gregorius Berce Rorimpandey, Pr, pada Misa Hari Minggu VI (14/2).

Masa pandemi covid-19 sudah dan masih terus menguji ketulusan solidaritas umat manusia. Penanganan korban bencana banjir dan longsor serta angin puting beliung, yang sudah menimpa wilayah Sulawesi Utara pada pertengahan sampai akhir bulan Januari 2021, sudah membuktikan betapa mulia gerakan solidaritas kemanusiaan itu, sekecil apapun juga pemberian atau perbuatan solidaritas itu. Kita mau bertobat dan membaharui diri, komunitas kita, Paroki kita, Gereja kita, di masa Prapaskah ini, dengan menguji dan mengembangkan solidaritas kita.

Pandemi covid-19 dan bencana alam sekaligus mengingatkan semua pihak untuk selalu bersiap siaga sesuai pesan Juruselamat: “hendaklah kamu juga siap sedia , karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan” (Luk. 12:40). Kita harus siagakan iman kita, supaya tidak goyah biarpun diterpa badai cobaan dan godaan. Kita harus siagakan ekonomi kita supaya dapat bertahan juga di masa-masa sulit seperti itu. Iman kita siagakan dengan kerajinan dalam kegiatan-kegiatan kerohaniaan, seperti peribadatan dan pendalaman iman. Ekonomi kita siagakan dengan kerajinan bekerja dan perilaku ekonomi yang tepat. Kita mau bertobat dan membaharui diri, komunitas kita, Paroki kita, Gereja kita, di masa Prapaskah ini, dengan meningkatkan kualitas iman dan ekonomi kita.

Pada tanggal 29 Juni 2020, Kongregasi untuk Para Klerus, di Roma, mengeluarkan instruksi Pertobatan Pastoral Komunitas Paroki dalam Pelayanan Misi Evangelisasi Gereja. Salah satu topik yang diangkat dalam Bab V adalah “Komunitas dari komunitas-komunitas”: Paroki yang inklusif, menginjili dan perhatian kepada orang-orang miskin. Paroki adalah komunitas dari komunitas-komunitas, suatu ruang kudus di mana bernaung bermacam-macam kelompok. Paroki yang inklusif adalah paroki yang merangkul semua golongan, semua anggota, semua orang. Tugas utama paroki adalah menginjili lingkungannya, untuk mendaratkan kabar baik kepada semua warga, dan menuntun mereka menuju tanah terjanji. Upaya untuk merangkul dan menginjili selalu dikonkritkan dengan suatu keberpihakan nyata, yaitu perhatian kepada orang-orang miskin dan terpinggirkan . Itulah hakekat Paroki, itulah panggilan Gereja, itulah perutusan kita. Kongregasi untuk para klerus selanjutnya menegaskan: “Sangat sering komunitas paroki adalah tempat pertama perjumpaan manusiawi dan pribadi orang-orang miskin dengan wajah gereja. Secara khusus, para imam, para diakon, dan orang-orang hidup bakti tergerak untuk berbela rasa terhadap “daging yang terluka” dari saudara-saudari, dan keluarga mereka, untuk membuka pintu bagi mereka yang membutuhkan” (no. 33).

Salah satu pertobatan pastoral untuk mengisi masa Prapaskah ini adalah menjadikan Paroki, Gereja, sebagai ruang kudus. Itulah satu ruang perjumpaan untuk merangkul dengan ajakan Juruselamat: “marilah kepadaku, semua yang letih lesu dan berbeban berat”, dan menawarkan “Aku akan memberikan kelegaan kepadamu” (Mat 12:28). Sebagai ruang kudus, Paroki, Gereja, menyiapkan dan menawarkan kekudusan kepada mereka yang sedang mencarinya. Biarlah mereka mencari bukan di tempat lain, melainkan di dalam lingkungan Paroki, di dalam lingkungan Gereja, di dalam persekutuan kita. Kita bertobat sambil menghadirkan Gereja yang Mengasuh, mengasuh dengan kasih. Kasih, itulah kualitas yang diminta oleh Yesus dari Petrus, dengan 3 kali menanyainya: “apakah engkau mengasihi Aku” (Yoh 21:15-17). Pengasuhan tanpa kasih hanya akan merusak masa depan Gereja. Di tahun Santu Yosep ini, kita belajar mengasuh dengan hati seorang bapa (patris corde). Gereja mengakui keteladanan Santu Yosep lewat lagu: “amanlah dalam tanganmu Maria dan anaknya” (PS 645). Gereja yang Mengasuh adalah Gereja yang dengan kasih yang tulus merangkul dan mendampingi sehingga semua tiba di tanah air surgawi. Gereja mengasuh sambil memertegas keberpihakannya, yaitu preferential option for the poor. Mereka yang miskin, mereka yang terpinggirkan, mereka yang menderita, dalam rupa-rupa konteks pergumulan hidup mereka, mereka semua menunggu keputusan dan tindakan kepedulian Gereja yang Mengasuh mereka.

Biarpun masih terbatas, Keuskupan Manado sudah mulai menikmati buah-buah baik dari Gerakan Orangtua Asuh untuk Seminari (GOTAUS). Pengurus YPK mau menggerakkan solidaritas pendidikan sejalan dengan semangat Gereja yang Mengasuh ini lewat program Tabungan Umat Peduli Pendidikan (TUPP). Tentu ada banyak bentuk solidaritas yang masih dapat kita kembangkan di level Wilayah Rohani, Stasi, Paroki, Keuskupan, Kelompok Kategorial, ataupun sendiri-sendiri. Gereja yang Mengasuh tidak pernah kekurangan orang miskin, terpinggirkan, menderita yang terus menerus berteriak seperti 2 orang buta yang mengikuti Yesus: “kasihanilah kami” (Mat 9:27). Mari kita wujudkan pertobatan dan pembaharuan diri kita, Paroki kita, Gereja kita, sambil melibatkan diri dengan sukacita dalam gerakan Gereja yang Mengasuh ini.

Catatan: masa sambut Paskah untuk tahun 2021 ini mulai pada hari Minggu Prapaskah V, tanggal 21 Maret sampai pada hari Minggu Tritunggal Mahakudus, tanggal 30 Mei.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here